Riang Bersama Alam

Ayah Lilo

 

 

 

Oleh : Ayah Lilo (Lilo Ahmad Rohili)

 

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kiriman video dari rekan kerja lewat aplikasi grup watsapp. Isi videonya menayangkan sebuah tayangan tentang aktivitas anak-anak SD terpadu Al-Qudwah yang sedang mengikuti program FTP atau forum talent preneur. Dalam video yang berdurasi sekira dua menit tersebut menampilkan anak-anak SD Terpadu Al-Qudwah tengah asik bermain di lapangan luas. Mereka bergembira dan berlarian kesana kemari. Beberapa kelompok lain terlihat seru memanjat pohon sementara anak putrinya sibuk belajar memasak dan memanggang. Tayangan yang ada dalam video tersebut sungguh membuat hati saya takjub. Ditengah maraknya permainan yang ada pada gawai semacam komputer, laptop, tablet hingga ponsel pintar yang cenderung individual. Sekolah tersebut membuat program khusus agar anak-anak SD bisa bermain dengan alam. Keren!

            Kalau saya melihat sekarang ini, aktivitas anak-anak sudah jarang terlihat berlari-lari memegang kayu atau galah untuk rebutan layang-layang yang putus karena kalah adu layang-layangan, hingga berlari kencang sambil membawa layang-layang tersebut diselempangkan dibelakang dengan tali sumbu menyilang depan dada. Anak-anak seolah belajar tentang perjuangan. Sungguh sebuah pemandangan yang seru menurut saya.

            Jarang juga dewasa ini saya melihat anak-anak bermain yang melibatkan lebih dari seorang seperti main benteng-bentengan, kasti, engkle, sondah, congklak, bola bekel, kucing-kucingan, enggrang, ular-ularan dan lain-lain. Kalau pun ada permainan bersama-sama adalah permainan populer seperti futsal atau bersepeda. Penyebabnya karena anak-anak sekarang lahir sebagai generasi millennial. Pada generasi ini, secara tidak sengaja menciptakan lingkungan digital yang mudah terserap oleh anak-anak. Alhasil, anak-anak lebih tanggap terhadap dunia layar dibandingkan dengan generasi sebelumnya yang senang dunia alam. Jelas, hal ini akhirnya berimbas pada aktivitas fisik anak-anak menjadi berkurang karena hanya pergerakan jari-jemari saja yang bermain.

            Berkurangnya aktivitas fisik membuat otot-otot anak-anak kurang terlatih dan terasah. Selain itu, ada yang hilang dari aktivitas mereka yaitu interaksi sosial dengan lingkungan atau teman sepermainan. Mereka secara emosional kurang terlatih untuk bisa menghadapi kekalahan, berjuang mendapatkan sesuatu, kerjasama, kebersamaan membuat strategi, mencari ketua tim, dan lain-lain. Maka, sudah selayaknya lah anak-anak dikembalikan lagi ke alam. Maksudnya adalah anak kembali diajak bermain dengan alam.

            Alam bukan saja memberi kegembiraan pada anak, tapi juga pelajaran berharga. Tanpa tambahan alat-alat permainan buatan dari plastik pun anak-anak cukup memperoleh kepuasan bermain ketika berinteraksi dengan alam. Tanah dan pasir misalnya, akan menjadi media yang tidak pernah ada habisnya membuat anak bergembira bermain. Tangan-tangan mungil mereka mengambil tanah sedikit demi sedikit, memasukkan kedalam cetakan dengan beragam bentuk, atau dengan menuangkan air sedikit demi sedikit hingga tanah bisa dibentuk dengan tangan, atau bisa juga dengan menggali tanah sedikit demi sedikit dengan tangan lalu memasukkan bibit tanaman, bahkan membangun istana dan benteng dari pasir. Anak-anak yang dekat dengan alam senantiasa memiliki jiwa dan budi yang halus. Selain menguatkan fisik, bersatu dengan alam mengasah nalar serta kepercayaan terhadap diri sendiri.

            Guru atau orangtua yang berupaya mendekatkan anaknya dengan alam cenderung membuat anak memiliki emosi yang lebih stabil, serta lebih berbahagia. Oleh karena itu, adalah peran orangtua untuk meluangkan waktu membuat kegiatan bersama anak. Sangat disarankan jika waktu berkualitas bersama keluarga (family time) dilakukan di luar rutinitas harian. Jika sehari-hari sudah berkegiatan dengan pekerjaan, saat akhir pekan bisa mencoba tempat baru di luar. Kebutuhan belajar di alam langsung harus jadi program wajib setiap keluarga. Untuk menguatkan bonding keluarga bisa dengan beragam cara, tapi dengan mengajak anak-anak menyentuh alam secara langsung pasti akan jadi pengalaman tak terlupakan dan sarana belajar yang seru.

            Rekan mengajar saya bernama Ikeu Isrianingsih, seorang ibu beranak tiga yang juga seorang aktivis perempuan di Lebak mengungkapkan betapa pentingnya mengenalkan alam kepada anak. Bersama suami dan ketiga anaknya bernama Lala (12 tahun), Ayya (10 tahun) dan Athan (5 tahun), mereka melakukan petualangan berjalan menuju Curug “Menurut saya, dengan tadabur alam ke tempat-tempat yang banyak rintangannya, akan lebih mudah untuk saya dan suami mengenalkan kepada anak-anak terhadap penciptaNya,” ungkapnya.

            Mengenalkan alam bisa disesuaikan dengan kemampuan biaya masing-masing keluarga. Bisa saja menyusuri bagian kota yang jarang dilewati, mendatangi perkampungan, mengunjungi museum atau taman kota, atau mencari destinasi alam yang ramah untuk keluarga dengan berjalan kaki. Warga Lebak dan sekitarnya beruntung memiliki destinasi wisata berupa curug atau air terjun. Curug yang relatif sering disebut dan sudah dikelola baik oleh Pemerintahan Desa setempat di Lebak diantaranya, curug Munding, lokasinya relatif dekat dengan perkampungan penduduk dan persawahan yang asri, ditambah dengan curahan air terjun yang lebar membuat pengunjung betah berlama-lama berendam dibawahan curahan air yang telah membentuk kolam sungai yang cukup luas. Disamping itu, terdapat curug Kanteh, terletak di wilayah Desa Cikatomas, Kecamatan Cilograng. Dan masih banyak lagi curug-curug yang lain. Destinasi inilah bisa dijadikan alternatif untuk mengenalkan anak kepada alam. Dengan berjalan kaki dan berpetulang anak-anak akan menjadi sehat secara tubuh dan jiwa. Secara medis, berjalan kaki meningkatkan kesehatan, pembentukan massa otot, serta mengurangi stress. Berjalan kaki dan berpetualang menjadi solusi untuk rekreasi keluarga yang murah meriah. Dengan membiasakan anak berpetualang, kelak anak-anak bisa menjadi sosok yang merdeka dan bisa menghargai semua hal.

            Membawa anak-anak dekat dengan alam adalah alternatif yang sesuai untuk eksplorasi. Anak akan mampu melatih rasa penasaran, daya imajinasi, hingga problem solving. Anak juga memiliki kebutuhan dan hak untuk dekat dengan lingkungan alaminya. Bersahabat dengan alam akan memberi banyak kesempatan bagi anak-anak untuk menemukan kehebatan dan kesempurnaan Allah swt, sang pencipta alam semesta. Wallahu ‘alam bishawab.

 

Penulis adalah guru Bahasa Indonesia di SMA Terpadu Al-Qudwah dan relawan Kampung Dongeng Saija-Adinda Lebak.