Ketika Hari Kasih Sayang disalahartikan

0
267

Terlepas dari asal mula dan sejarah hari Valentine budaya agama tertentu,  kondisi saat ini yang kita hadapi adalah banyaknya anak muda yang menjadikan Valentine sebagai ajang  ekspresi cinta dengan versi mereka. Hal tersebut yang menimbulkan keresahan bagi sebagian orang, terutama orang tua terhadap anak remajanya. Pasalnya, banyak kasus yang terjadi dari tahun ketahun dampak dari perayaan hari tersebut.

Di tahun 2019 lalu, pemerintah kota makasar menerbitkan larangan merayakan valentine dengan alasan mencegah terjadinya seks bebas dan maraknya obat-obatan terlarang di kota tersebut. “Kenapa ini menjadi perhatian pemerintah, karena perayaan tersebut dimanfaatkan untuk hal-hal yang terindikasi tidak baik.  Misalnya ada penjualan permen dengan kondom, penjualan narkoba semakin meningkat,” kata Danny Pomanto di kantor Wali Kota Makassar, Jalan Ahmad Yani, Makassar, Kamis (14/2/2019). Dia mengatakan bahwa Valentine bukanlah budaya asli Indonesia. Danny mengatakan warga Makassar boleh menjadi modern, tetapi tidak berarti merusak generasi Makassar.”Persoalan hari Valentine, itu adalah kalau diartikan dalam idiom itu hari kasih sayang. Saya kira hari kasih sayang itu 356 hari, dan 24 jam kasih sayang sepanjang waktu buat tiap hari,” ungkapnya.

Bukan hanya di Makasar, beberapa kota di Indonesia mengeluarkan larangan pada perayaan Hari Valentine yang didukung oleh beberapa penduduk Muslim, salah satunya Aceh. Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf pada tahun lalu mengatakan perayaan Hari Valentine itu tidak sesuai dengan nilai-nilai agama yang dianut penduduknya. Secara serentak di daerah-daerah di Indonesia melakukan hal serupa. Kota Bandung, Sukabumi, Tasikmalaya, Madiun, Sampit, Banjarbaru, Padang, dan Ambon melakukan pelarangan perayaan yang dianggap sebagai budaya Barat ini. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang, Sumatera Barat bahkan mewanti-wanti warga Padang untuk tak turut merayakan Valentine karena bisa menimbulkan kegaduhan moral.

Begitupun baru-baru ini, Wali Kota serang membuat video berisi larangan kepada warganya untuk merayakan hari Valentine, pada hari Rabu (12/2)

Syafrudin menyampaikan,”Dalam rangka membangun karakter Kota Serang yang berakhlak mulia serta menjaga masyarakat terhindar dari kegiatan yang bertentangan dengan norma agama, sosial dan budaya. Pada tanggal 14 Februari, kami mohon perhatian saudara tidak merayakan hari valentine,” terangnya.

Sebagai penggantinya kata Syafrudin, mengisi dengan bersilaturahmi, berinfaq dan bershodaqoh, Itu jauh lebih bermakna dan bermanfaat dari perayaan valentine day,” tegasnya.

Larangan Wali Kota di daerah masing-masing dari tahun ketahun bermunculan, seiring maraknya dampak negatif dari perayaan hari tersebut. Namun sesuatu yang di larang dengan keras, terkadang malah menjadi sesuatu yang menantang untuk di coba, begitulah cara berfikir anak-anak muda. Seperti kasus yang terjadi di negara Arab saudi, Pihak berwenang di Arab Saudi sempat melarang penjualan dan perayaan yang berkaitan dengan Hari Valentine. Perayaan ini dianggap bertentangan dengan tradisi Muslim di sana. Perayaan ini dapat dirayakan secara pribadi dan tertutup oleh orang-orang non-Muslim, menurut laporan Huffington Post. Dilarang bagi Muslim Saudi untuk mengambil bagian dalam Valentine. Setelah itu lebih dari 140 orang ditangkap karena merayakannya pada 2012, lima pria dijatuhi hukuman cambukan dan 32 tahun penjara karena minum dan menari dengan wanita pada 14 Februari 2014.

Dilansir dari Al Arabiya, pada 2018 Arab Saudi merayakan Valentine untuk pertama kali, tradisi lama pelarangan sudah tidak berlaku lagi di sana, meski masih menuai kontroversi.

Belajar dari kasus ini, maka kita bisa simpulkan bahwa penyebaran ritual dengan perantara budaya itu sangat mudah untuk viral menjalar dimana-mana, apa lagi dibantu dengan media dan dominasi orang yang mengerjakannya. Maka ketika sesuatu yang sudah menjadi rutinitas  mengakar dan berbudaya, menjadi hal yang sukar untuk dihilangkan.

Seperti kasus budaya minum Khamar bangsa arab sudah sangat mendarah daging, pada masa Nabi Muhammad diutus, lalu bagai mana solusi penanganannya?. Jika kita cermati ada empat tahapan sampai akhirnya khamar benar-benar di haramkan.

 Pertama:  khamar dibolehkan  “Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl: 67)

Kedua: Turun ayat untuk menjauhkan diri dari khamar karena mudaratnya lebih besar dibanding maslahatnya “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. Al-Baqarah: 219)

Ketiga: Turun ayat untuk melarang khamar pada satu waktu, dibolehkan pada waktu lainnya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (QS. An-Nisaa: 43)

Keempat: khamar diharamkan secara tegas “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)

Lain Khamar lain juga Valentine, namun setidaknya menjadi gambaran bagi kita, betapa sesuatu yang tabu dan tidak diterima logika sebagai kebenaran, menjadi hal yang digandrungi dan dipuja-puja oleh banyak orang. Kalau sudah begini, Penanganannya pun harus spesial dan tidak bisa instan. PR bersama kita adalah mencarikan solusinya. Semua orang wajib terlibat dalam upaya ini, tidak cukup hanya sekedar larangan. Ada yang menlarang, ada yang mengedukasi, ada yang memberi alternatif dan seterusnya,  masing-masing bisa memainkan perannya. Para pemangku kebijakan sudah benar dan maksimal melakukan pencegahan dengan kemampuan mereka, baik itu Walikota, Aparat Militer, Tokoh Agama dan juga para pendidik dengan cara mereka masing-masing. tinggal kita tanyakan pada diri sendiri, apa yang sudah kita lakukan untuk menghalau budaya salah yang terlanjur menjadi idola anak muda ini? Oleh Ivan Said Afandi, S.Pd

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here