Konsep Pendidikan

Konsep Pendidikan

Mengambil inspirasi dari perjalanan hidup Rasulullah, Al-Qudwah mencoba menerapkannya dalam proses pendidikan. Dalam sejarahnya perjalanan pendidikan Rasulullah dibagi menjadi 4 tahap usia perkembangan, yaitu

Tahap I (Usia 0-5 tahun)
Pada tahap ini Rasulullah mendapatkan gizi yang baik sekaligus lingkungan yang mendukung untuk perkembangan karakter lewat bahasa, tinggal bersama Halimah Sa’diah di pedesaan pinggiran kota Mekkah yang dikenal dengan baik bahasa komunikasinya. Maka tugas pendidikan di usia ini adalah pemberian contoh yang baik secara maksimal di setiap sisi kehidupan termasuk didalamnya memperhatikan bahasa yang digunakan.

Tahap II (Usia 6-9 tahun)
Di usia ini Rasulullah banyak menghabiskan waktu dengan menggembala kambing. Disinilah Rasulullah belajar menyerap banyak hal yang kemudian membentuk pribadi dan karakternya untuk hidup mandiri dan melatih kepemimpinan. Dengan menggembala kambing sebenarnya Rasulullah dididik untuk memiliki skill pathfinding, directing, controlling, reflecting sekaligus terasah leadershipnya. Al-Qudwah mencoba mengaitkan setiap proses pendidikan dan pembelajarannya senantia bersentuhan dengan alam, karena alam banyak memberikan pembelajaran yang baik dalam proses pengembangan karakter.

Tahap III (Usia 10-14 tahun)
Rasulullah mendapat tempaan hidup saat beliau menginjak tahap ini, lewat aktivitas bisnis yang dilakoninya. Bisnis yang dimaksud tidak sekedar menjajakan barang dagangan, tapi Rasulullah melakukannya dengan melintasi berbagai macam negeri. Maka disinilah pentingnya mendidik kemandirian pada anak didik lewat perjalanan yang sangat jauh, serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk belajar dari maestro yang sesuai dengan bakatnya

Tahap IV (Usia 15 tahun keatas)
Memasuki usia dewasa Rasulullah benar-benar terlibat dalam kehidupan bermasyarakat, lewat pergaulannya yang baik membuatnya menjadi orang yang paling dipercaya oleh semua orang, itulah mengapa Rasulullah mendapat gelar Al-Amin. Di usia ini Rasulullah pernah ikut membantu suku Quraisy dalam sebuah peperangan, Rasul pun mengikutinya walaupun sekedar membantu menyiapkan logistik yang dibutuhkan. Dalam pendidikan usia dewasa dibutuhkan ruang yang cukup bagi pemuda untuk mendekatkan dirinya pada permasalahan-permasalah sosial. Pendidikan dikatakan berhasil manakala setiap pribadi dalam lembaga pendidikan mampu menunjukkan komitmen yang tinggi dalam memberikan kemanfaatan di lingkungan sekitar sekolahnya.

Sekolah seharusnya seperti sebuah rumah yang tak pernah pilih kasih dalam memberikan kenyamanan dan pelayanan. Sekolah menjadi sarana melejitkan setiap potensi peserta didik tanpa melabrak fitrah yang Allah SWT berikan. Maka, keberagaman potensi, karakter dan budaya menjadi warna tersendiri yang harus diselaraskan dengan balutan cinta dan nilai-nilai Islami. Al-Qudwah berusaha melahirkan generasi rabbani, generasi yang unggul dan relijius.
Pendidikan dikatakan berhasil jika output yang dihasilkan tidak sekedar pintar secara kognitif, tetapi mereka dapat bermanfaat untuk orang lain. Untuk itulah Al-Qudwah membentuk siswa/i agar siap menjadi kader bangsa yang berkarakter dai.

KH. A’la Rotbi, Lc

Ketua Yayasan Islam Qudwatul Ummah

Sekolah ini didirikan untuk mencetak generasi yang berbeda, unggul dan tahan banting. Generasi yang berbeda cara berpikirnya dan aksinya denga orang kebanyakan. Mereka punya percaya diri yang kokoh seperti batu karang. Mereka bergaul dengan banyak orang tapi tidak terpengaruh. Dengan percaya diri menyongsong masa depan yang dibangun dengan pondasi keislaman

KH. Samson Rahman, MA

Kepala Bidang Pendidikan Qudwatul Ummah

Pimpinan Boarding School