Mukhoyam Lughowi di Antara Isu Tsunami

0
500

 

 

 

 

Jika anak sekolah pada umumnya mengisi liburan UNBK dan USBN dengan libur panjang bersama keluarga, namun tidak demikian halnya dengan para santri Al-Qudwah Boarding School. Selalu saja ada kegiatan yang di lakukan agar mereka tidak terlena dengan libur panjang.  “Kita tidak punya tradisi Meliburkan santri”, demikian yang pernah di sampaikan pimpinan Al-Qudwah Boarding School KH. Samson Rahman,MA. kepada staf pengurus boarding. kegiatan KBM yang ditiadakan sekolah karena ujian akhir kali ini, diganti dengan agenda besar mukhoyam lughowi. Mukhoyam lughowi, adalah agenda tahunan yang rutin dilaksanakan  oleh Al-Qudwah Boarding School, dengan tujuan utamanya adalah untuk memicu dan memotivasi Santri Al-Qudwah agar terbiasa berbahasa Arab dalam aktifitas harian mereka. Namun mukhoyam lughowi kali ini punya cerita tersendiri, dan punya kesan tersendiri. Pasalnya agenda mukhoyam ini bersamaan dengan maraknya isu tsunami besar yang di prediksikan terjadi di wilayah Banten dan sekitarnya.

Rintangan-rintangan yang dialami panitia mukhoyam lughowi berdatangan silih berganti, saat dan sebelum kegiatan. Rintangan yang pertama adalah menentukan lokasi mukhoyam. Untuk memutuskan lokasi kegiatan, panitia harus survey ke beberapa tempat. Bahkan ada tempat yang di survey sebanyak  dua kali, untuk sekedar memastikan apakah lokasi tersebut aman atau tidak. Sementara itu, beberapa orang tua yang sudah menengar kegiatan ini akan diadakan di pantai, merasa gelisah dan panik menghubungi guru Al-Qudwah Boarding School agar kegiatan yang akan di adakan dari tanggal 9-12 April 2018 tersebut tidak di laksanakan, atau di carikan alternatif kegiatan lain.  Namun karena banyak pertimbangan lain, ditambah kevalidan berita tersebut belum bisa di pertanggung jawabkan, akhirnya panitia memutuskan untuk melaksanakan kegiatan di pantai Binuangeun, Wanasalam,  Malingping daerah selatan Banten. Alasan tim pelaksana memilih tempat terebut adalah karena tempat tersebut sangat representatif dari segi keamanan peserta dan ramah lingkungan. Namun tetap saja bagi sebagian orangtua pilihan tersebut kurang tepat untuk keamanan anak-anak mereka.

Rintangan selanjutnya dialami oleh tim panitia dari organisasi ISMA, tim ini berperan sebagai tim Pelaksana yang membantu panitia guru mensukseskan acara. Rintangan yang di alami mereka di hari keberangkatan yaitu belum adanya kepastian apakah tenda yang sudah dipinjam seminggu yang lalu bisa diambil atau tidak. Hari yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk persiapan acara dan pengangkutan perlengkapan, namun ternyata di luar rencana, mereka masih harus mondar-mandir menentukan kepastian peminjaman tenda besar, yang biasa di gunakan PPDB untuk evakuasi bencana.

Guru pendamping yang bertugas sebagai Pj. keberangkatan adalah Ust. Kusnadi, beliaulah yang menyewakan bus mini dan menyiapkan segala hal sebelum keberangkatan. Seluruh peserta berangkat dengan dua bus mini yang sudah di sewa, dan beberapa mobil dari orang tua yang ingin mengantarkan anak-anak mereka ke lokasi yang di tuju. Namun di saat yang bersamaan tim panitia dari ISMA masih melobi PPDB Lebak agar bisa meminjamkan tenda. Dengan segala kendala yang ada Alhamdulillah, tenda berhasil didapatkan, meski keberhasilan tersebut kemudian menjadi masalah baru, dikarenakan tiang-tiang penyangga tenda harus diangkut dengan mobil tersendiri. Akhirnya panitia berinisiatif menghubuni devisi usaha Al-Qudwah untuk peminjaman mobil bak yang biasa di gunakan untuk pengantaran Catering sekolah. Alhasil, tenda besar akhirnya berhasil di antarkan ke lokasi.  Keberadaan tenda tersebut sangat dibutuhkan panitia, karena fungsi utamanya sebagai pusat Base Camp Panitia dan Pusat evakuasi saat cuaca Buruk datang tiba-tiba di sela-sela kegiatan ini.

 Peserta tiba pukul 11.30 di lokasi kegiatan. Sementara panitia ISMA menyusul pada pukul 13.00. Kegiatan pertama Setelah sholat berjamaah Dzuhur-Ashar Jama’ dan Qasar adalah pemasangan tenda masing-masing kelompok. Waktu yang diberikan untuk pemasangan tenda adalah dari waktu tiba di lokasi sampai waktu Ashar tiba, yaitu pukul 13.00-15.30. Setelah itu, mereka masih diberi kesempatan untuk melakukan aktifitas pribadi sampai pukul 17.45.

Menjelang acara pembukaan, ada beberapa laporan guru dan murid  yang merasakan getaran gempa. Sehingga membuat beberapa peserta panik. Apalagi beberapa guru dihubungi oleh orang tua, menanyakan kabar anaknya. Acara tersebut seakan-akan hendak ditutup sebelum dibuka. Namun kegentingan tersebut tidak menyurutkan semangat peserta dan panitia untuk melanjutkan acara. Seremonial acara pembukaan dilaksanakan  Setelah Seluruh Peserta melaksanakan sholat Maghrib dan Isya Jama’ dan Qasar. Kegiatan ini di buka oleh Ust. Fikri Ismail selaku wakil pimpinan boarding. Seluruh peserta sangat antusias mengikuti acara pembukaan. Meski tata-tertib yang di sampaikan oleh panitia di acara pembukaan tersebut, cukup membuat mereka faham bahwa Kegiatan ini bukan sekedar Refreshing libur USBN dan UNBK, namun ada target-target yang harus mereka selesaikan, termasuk diantaranya menyelesaikan target hafalan 500 mufrodat,  dan tilawah sehari satu juz.

Acara selanjutnya adalah Nobar film berbahasa Arab dengan judul Bilal bin Rabah. Namun karena kondisi cuaca hujan, Nobar tersebut terpaksa  di hentikan di tengah jalan. Akhirnya seluruh peserta mengungsi ke tendanya masing-masing. Seluruh panitia melaksanakan breafing untuk memutuskan apakah kegiatan ini akan terus berlanjut atau dibatalkan. kegiatan yang di ikuti oleh 131 Peserta dengan rincian 77 santriwati dan 54 santriwan dengan tingkatan kelas yaitu kelas VII dan VIII SMP, serta Kelas X dan XI SMA, Serta enam pendamping guru yaitu Ustzh. Ade jumsiah, Ustzh. Poni Kuniati, Ustzh. Eva Perdian, Ustzh Siti Khomsa, Ustzh. Dedeh, dan Ustzh. Nurpalah, ditambah pendamping guru putra berjumlah empat orang yaitu Ust. Ivan Said Afandi, Ust. Imron Iskandar, Ust. Fikri Ismail, dan Ust. Kusnadi, pada akhirnya disepakati untuk tetap berlanjut. Tinggal bagaimana memahamkan orang tua kenapa acara tersebut harus tetap berlangsung.

Setelah rintangan-rintangan tersebut, acara normal sesuai rancangan panitia. Adapun kegiatan mereka selama mukhoyam adalah, menyetorkan hafalan kosa kata bahasa Arab atau di kenal dengan istilah mufrodat sebanyak tiga kali sehari. Target satu sesi menyetor adalah 80 mufrodat, agenda lainnya adalah materi-materi bahasa Arab serta Muhadatsah atau praktek berbicara bahasa Arab, adapun  agenda selingan diantaranya, mengunjungi tempat evakuasi tsunami yang di buat PPDB setempat, Serta Outbond di sekitar lokasi kegiatan, serta ice breaking di sela-sela kegiatan.

Seluruh kegiatan berlangsung sesuai rencana, bahkan agenda nobar yang sempat terhalang oleh hujan, akhirnya bisa di gantikan di hari selanjutnya. Peserta sangat menikmati seluruh kegiatan yang berlangsung. Mereka melaksanakan tugas sesuai intruksi panitia, diantaranya Petugas shalat bejamaah dibebankan kepada kelompok secara bergiliran, diantara anggota kelompok ada yang bertugas gelar tikar untuk shalat, ada yang bertugas sebagai Muadzin, Dzikir Al-Ma’surot, dan memimpin hafalan mufrodat bersama. Selain itu, Ketua regu dan seluruh peserta harus selalu siap siaga, karena tim panitia mengumpulan peserta hanya dengan aba-aba peluit. Misalkan, peserta di tugaskan untuk shalat tahajud perkelompok, maka peruit di tujukan hanya kepada ketua kelompok. Selanjutnya ketua tersebut yang membangunkan anggotanya. Begitupun sesi menghafal mufrodat, seluruh peserta berusaha keras menyetorkan hafalan sesuai target.

Setiap peserta memiliki kemampuan menghafal mufrodat yang berbeda, ada diantara mereka yang berhasil menyelesaikan lebih dari target bahkan mencapai 600 mufrodat, Namun ada juga yang kurang dari target meski telah berusaha menghafal sekuat tenaga. Namun rata-rata peserta menycapai target minimal yang di tentukan yaitu 300 mufrodat. Bahkan kelas XI yang juga bertugas sebagai panitia ISMA, tidak kalah semangat untuk mengejar hafalan mufrodat adik-adiknya di tengah kesibukan mereka menjadi panitia. Ketika menghafal mufrodat suara peserta riuh bergemuruh menyaingi suara ombak yang ricuh. Apalagi saat di umumkan oleh panitia, bahwa peserta yang tidak mencapai target hafalan kemungkinan bisa pulang terakhir setelah semua peserta pulang ke pesantren. Efek dari pengumuman tersebut, pada hari terakhir sebelum penutupan, peserta masih saja mengantri menyetor hafalan.

Cerita unik lain dari kegiatan ini datang dari orang tua santri yang berdomiasili Malingping. Mereka setiap hari silih berganti berdatangan mengunjungi anak-anak mereka. Bahkan berbaik hati membawakan makanan dalam jumlah yang banyak untuk peserta. Sementara itu, panitia di pesankan cumi bakar setiap malam. Bukan hanya orang tua peserta, beberapa dari mereka adalah orang tua kelas IX yang sedang melaksanakan USBN di sekolah. mereka berkumpul menyuguhi hidangan kepada panitia, seperti tamu yang di suguhi oleh tuan rumah.

Acara yang berlangsung tiga malam empat hari tersebut berakhiri. Seluruh peserta mengikuti acara penutupan pada hari kamis tanggal 12 April 2018 pukul 11.00-12.00, selain seremonial penutupan, acara tersebut juga berisi pembagian hadiah untuk kategori peserta terbaik dengan capaian mufrodat terbanyak yaitu Najwa Yahya sebanyak 600 mufrodat dan Muhammad Nuh Logika sebanyak 411 mufrodat, kelompok terbaik putri diraih oleh kelompok 5 yang di ketuai oleh Nurilah, dan kelompok terbaik putra diraih oleh kelompok 3 yang diketuai oleh Kartiko Noviansah, ketua kelompok terbaik putri diraih oleh Amara, dan ketua kelompok terbaik putra diraih oleh Kartiko Noviansah. Kegiatan di akhiri dengan sholat Dzuhur dan Asar Jama’ dan Qasar.

Seluruh peserta kembali disewakan mini bus untuk keberangkatan kepulangan, dan kali ini untuk tenda panitia di bawakan oleh salah satu mobil bak orang tua peserta. Peserta seluruhnya pulang dengan selamat, dengan menyisakan banyak pengalaman berharga selama kegiatan. Semoga kegiatan ini berefek dalam kseharian mereka agar lebih termotivasi berbahasa Arab dan lebih mencintai bahasa Arab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here