I AM A CLIMBER

0
714

Dalam konsep Adversity Quotient ada tiga jenis manusia dalam menghadapi tantangan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari, Paul G Stoltz menganalogikan bahwa hidup kita dapat diibaratkan dengan sebuah pendakian.

Yang pertama disebut sebagai Quitters (berhenti), tipe ini cenderung mudah putuh asa. Jikapun dia dihadapkan pada suatu tugas atau pekerjaan tak lebih hanya sebatas bekerja atau hidup. Hal lain yang membuatnya tidak efektif menjalani hidup adalah mudah menyalahkan orang lain. Kesempatan untuk maju sebenarnya terbuka lebar untuk siapapun namun bagi tipe Quitters mereka akan menolaknya mentah-mentah, tidak akan pernah mau mencoba untuk memulai.

Yang kedua disebut sebagai Campers (berkemah),  manusia tipe ini cenderung  mudah puas apa yang dia miliki, kemauannya untuk belajar hal-hal baru selalu dia hindari lantaran terlalu banyaknya perhitungan resiko yang akan dia hadapi. Berbeda dengan Quitters, Campers  mau merespon amanah yang diberikan namun tidak mau menyelesaikannya sampai pada puncak.

Yang ketiga disebut sebagai Climber (pendaki), hidupnya adalah pendakian yang terus harus dijalani. Dia tidak akan menghitung untung rugi yang diperolehnya, baginya segala keterbatasan diri tidak akan menghalangi pendakiannya menuju kesuksesan yang hakiki.

Di SMATA kami mensimulasikannya pada kegiatan pendakian gunung dalam acara Mukhoyam yang setiap tahunnya diadakan. Program ini adalah program yang wajib diikuti oleh seluruh siswa, sebagai simulasi hidup untuk menjadi insan Climber bukan sekedar menjadi Camper apalagi Quitter. Lewat hidup bersama alam inilah semua potensi sikap siswa dapat dikembangkan.

Disinilah harapan besar yang diharapkan bagi siswa SMATA agar memiliki sikap menyambut baik semua tantangan, menunjukkan semangat dan bekerja dengan visi. Karena disanalah modal besar bagi anak untuk menapaki jalan hidup yang sebenarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here