Renungan 5

Beda antara Terbiasa (dawam) dan Memelihara (muhafadzah) Sholat
(Renungan subuh di atas pesawat)

Oleh : Abuya Obi

Hampir semua penumpang scoot 278 adalah jama’ah umroh, jam 03.45 terdengar pengumuman bhw saatnya masuk waktu sholat subuh di angkasa antara Jeddah – Singapore. Satu persatu saya bangunkan jamaah, bergantian ambil air wudhu di toilets yang sangat kecil itu. Lalu kami pun sholat sambil duduk di kursi masing-masing. Namun banyak juga yang tidak sanggup menjaga sholat subuh ini di saat agak sulit seperti itu, mungkin karena belum terbiasa dengan sholat yang lengkap.

Situasi ini mengingatkan saya akan berita Alloh pada QS. Al-Ma’arij : 19 – 35. “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat, mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya, …. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu dimuliakan di dalam surga”.

Untuk mendapatkan hidup yang tenang dengan mental luhur dan kemulian surga, Alloh mensyaratkan banyak hal yang diantaranya terkait sholat, yaitu mendawamkannya (kuntinu/terbiasa) dan menjaga/memeliharanya (muhafadzah), Alloh berfirman :
(الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ)
[Al-Ma’arij 23] dan
(وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ)
[Al-Ma’arij 34]

Dawam dan muhafadzah atas sholat itu sekilas satu makna tapi saat keduanya disebut dalam satu penyampaian, mengisyaratkan memiliki makna yang berbeda dan mengandung hikmah yang kuat.

Secara etimologi, kata دائمون berasal dari suku kata دام يدوم دوما yang memiliki arti selalu, senantiasa dan setia. Kata يحافظون adalah fi’il mudhori’ dari حافظ محافظة yang mengandung arti menjaga dan memelihara dari kerusakan, penyusutan dan kehilangan, yang dilakukan secara kontinu/selalu.

Dawam atas sholat bermakna senantiasa dan selalu melaksanakan sholat. Bukan hanya sholat fardu lima waktu, tapi sunnah-sunnahnya qobliyah atau ba’diyah. Jeda sholat subuh ke duhur, ia lakukan sholat duha. Jeda antara isya dan subuh pun terasa lama, sehingga ia sudah sholat malam saat orang lain lelap. “dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri”. (25:64).

Dawam atas sholat berarti sholat sebagi langkah utama dalam merespon setiap peristiwa atau kondisi yang dialaminya, mereka menjadikan sholat sebagai pintu mencari solusinya atas arahan Tuhan. “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” (2:45). Ada sholat hajat, sholat istikhoroh, sholat istisqo, sholat safar dan lain-lain.

Dawam atas sholat itu terimplementasi dalam mental, ucapan dan perilaku. Sebagaimana manfaat utama sholat bagi pelakunya adalah jiwa yang selalu ingat Alloh dan kepribadian bersih dari keburukan dan kemunkaran. Lihat ayat 14 dari surat Thoha dan ayat 45 dari al-Ankabut.

Muhafadzah atas sholat bermakna menjaga sholat agar tetap terlaksana. Sebab Iblis menghalangi kita melaksanakan sholat dengan berbagai cara dan siasat. Agar kita menjadi penghuni saqor : ”Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang me-laksanakan shalat, …” (74:42-43).

Sang Nabi memberitakan kepada kita, bahwa : “Setiap orang yang tidur maka setan mengikatkan 3 buhul di ubun-ubunnya dan ia berkata : tidurlah kamu sepulas-pulasnya (hingga meninggalkan sholat). Bila hamba itu terbangun dan menyebut nama Alloh, maka terbukalah satu buhul. Bila ia berdiri dan berwudhu, terbukalah buhun lainnya. Bila ia sholat 2 rokaat maka lepaslah ia dr semua buhul setan. Sehingga pagi itu ia menjadi Thoyyib an-Nafs (berjiwa baik). Bila ia tidak melakukannya (3 amalan) maka hari itu ia akan menjadi khobits an-nafs (berjiwa buruk)”.

Muhafadzah atas sholat adalah selalu mengingat kewajibannya dan mengingatkan orang lain akan waktu dan pelaksanaan sholat ini. Jangan sampai muncul generasi buruk yang diingatkan Alloh dalam QS. 19:59 ; “Kemudian datanglah setelah mereka pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginannya, maka mereka kelak akan tersesat”.

Muhafadzah atas sholat bermakna memelihara dan meningkatkan kwalitas sholat itu sendiri. Jangan sampai seperti sholat orang-orang munafik, seperti yang digambarkan Alloh ini : “Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali”. (4:142)

Muhafadzah atas sholat berarti memastikan sholat kita tidak mencelakakan kita seperti yang diingatkan Alloh dalam surat al-Ma’un. “Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat ria, dan enggan (memberikan) bantuan”.

Muhafadzah atas sholat adalah berusaha khusyu’ dalam pelaksanaannya dan berupaya menerapkan nilai-nilai yang ditanamkannya. Renungi QS. Al-Mu’minun : 1 – 11, yang menjelaskan kepribadian orang-orang beriman yang khusyu’ dalam sholatnya.

#Jeddah – Singapore, 22 April 2018.