Renungan 4

 

Sumber Foto : Google Image

Pelajaran dari Hijir Isma’il

Oleh : Abuya Obi

Hijir Isma’il adalah area bangunan Ka’bah yang dulu dibangun Ismail bersama ayahandanya Ibrahim. Dua insan yang telah membuktikan komitmen bertauhidnya dalam menta’ati perintah Alloh walau merugikan dirinya.

Ka’bah bukan untuk disembah bangunannya tapi Sang Pemiliknya, thowaf adalah simbol komitmen keta’atan totalitas kepada Alloh.

Kenapa Hijir Ismail hanya diberi pagar tembok pembatas 1 m dan tidak seperti bagian Ka’bah yang berbentuk kubus itu ? Karena masyarakat Quraisy yang merenovasi bangunan hanya mampu hingga seperti yang ada sekarang. Hal ini bukan tidak ada matrialnya tapi mereka hanya menerima sumbangan matrial dari hasil usaha halal, bukan dari pejudi, produsen khomr, pelaku riba apalagi sek komersial.

Ka’bah mengingatkan kepada dunia, terutama mereka yang thowaf : Berhenti dan perangilah praktek ekonomi yang dibenci Alloh itu.

Nabi pernah menyatakan keinginannya untuk mengembalikan hijir Ismail sebagai bangunan semula namun diurungkan hingga sekarang.

Hijir Ismail yang belum dibangun mengingatkan para da’i agar bijak dalam mengoreksi ‘peninggalan’ orang dulu. Lihat substansinya, luruskan isi yang menyimpangnya dan biarkan aksesoris yang tidak substansial.

Sholat di Hijir Isma’il sama dengan sholat di dalam Ka’bah yang tidak bisa dimasuki kecuali oleh Raja dan yang mendapat izinnya.

Banyak peristiwa/kondisi tidak ideal membawa hikmah/manfa’at besar di kemudian hari bagi generasi berikutnya.

(Dinihari Jum’ah di depan Ka’bah)