Renungan 2

Bekal Hamba Bertamu Kepada Tuhannya

(إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ)

“(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci”.
[Surat Ash-Shaffat 84]

Saat kita melaksanakan sholat, pada hakikatnya sedang bertamu dan berdialog dengan Tuhan Pencipta dan Pemelihara kita. Maka kita mendatangi-NYA harus dengan membawa Qolbun Salim agar kita dihinakan Alloh pada hari dibangkitkan menghadap-NYA.
(وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ * يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ)
“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. [Surat Asy-Syu’ara 87 – 89]

Imam ath-Thobari menukil 3 pendapat tentang maksud salim (selamat dan bersihnya hati) : dari kemusyrikan, dosa kemaksiatan dan penyakit hati seperti hasud dan mengutuk sesuatu.

Hati Yang Tidak Selamat dari Penyakit
Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa segala kemaksiatan manusia berasal dari penyakit dalam jiwa. Ada dua macam penyakit hati sbg muara kemaksiatan :

1. Marodh Syubhat yang berpangkal pada akal. Penyakit ini berupa ; kebodohan, kesalahpahaman, kesesatan pikiran, keraguan iman, kemunafikan, penyimpangan aqidah, dsb.

2. Marodh Syahwat yang bercokol dalam hati. Pentakitnya berupa ; nafsu yang tidak terkendali, tamak, hasad, hubbud dunya, berbagai kedzaliman, dsb.

Kemaksiatan pertama yang dilakukan manusia adalah karena marodh syubhat yang mengenai Adam dan Hawa oleh was-was (bisikan) Iblis dan karena penyakit tamak (marodh syahwat) dimana ada berbagai pohon/buah di surga yang dihalalkan dan hanya satu saja yang diharamkan tapi justru mereka tertarik dengan yang satu ini.

Cara Menyelamatkan dan Membersihkan Hati

(هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ)
[Surat Al-Jumu’ah 2] “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.

Masyarakat yang dalam kesesatan karena hati mereka berpenyakit berhasil diselamatkan Nabi Muhammad SAW dan berubah menjadi Khoiro Ummatin (03 : 110). Hati mereka berhasil diselamatkan dan dibersihkan dengan 3 program utama :

1. Tilawah : membaca dan mendengarkan al-Qur’an.
(يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ)
[Surat Yunus 57] “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman”.

2. Tazkiyah : membersihkan hati dengan muhasabah (introspeksi) penyakit-penyakit hati, perasaan negatif, sikap yang salah dan lain sebagainya.

3. Ta’lim al-Kitab wal Hikmah : Belajar atau memasukkan cahaya (memahami ilmu) dari al-Qur’an dan tuntunan Rasul baik berupa perkataannya atau contoh perbuatannya.

Tilawah memberi energi terhadap ruh, Tazkiyah membersihkan dan memperindah qolbu (nurani/emosi), sedangkan ta’lim menyinari dan membekali aqlu (akal/pikiran).

Sholat adalah bertamu kepada Alloh
Program Tiga T ini harus rutin dilakukan seorang mukmin, minimal melalui sholat-sholatnya. Sholat berarti bertamu kepada Alloh yang selalu membuka pintunya kapan pun saat kita mau mengetuknya. Saat merasa berdosa/maksiat, ia bisa masuki pintu sholat taubat. Saat membutuhkan bantuan darurat, Alloh buka pintu sholat hajat. Saat bingung memilih, sholat istikhoroh diajarkan Nabi.

Agar sholat bisa dinikmati dan berdampak baik pada diri maka saat ia melakukan sholat, ia harus merasakan energi bacaan sholat yang dinikmati oleh ruhnya. Ia harus berusaha menghayati dengan kalbu setiap makna yang diucapkannya di hadapan Alloh Yang Maha Menyaksikannya. Ia harus memahami dan mengambil ibroh/pelajaran dari ayat-ayat Qur’an yang dibacanya atau didengarnya dari imam yang memimpin sholatnya. Di sini lah makna khusyu dalam sholat itu akan didapatkan bila dia mengerti bahasa arab atau minimal mengerti makna /terjemah setiap bacaan sholatnya.

Semoga bermanfaat.